Perdagangan Internasional

  1. Pengertian Perdagangan Internasional.
Perdagangan internasional adalah suatu proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela yang dilakukan antar Negara yang satu dengan yang lain melalui ekspor-import. Itulah difinisi perdagangan internasional.
  1. Motif Perdagangan Internasional.
Penduduk suatu Negara melakukan perdagangan internasional dengan penduduk lain didorong adanya motif berdagang. Motif berdagang tersebut yaitu memanfaatkan/keuntungan tambahan yang diperoleh dari perdagangan internasional tersebut, yang dikenal dengan istilah “ gains from trade “.
Alasan negara melakukan perdagangan internasional:
  1. Masalah mobilitas faktor produksi. Faktor produksi terdiri dari tanah (land), tenaga kerja (labour), barang modal (capital) dan manajerial atau keterampilan (skill).
  2. Monilitas mengandung arti suatu pergerakan, sehingga yang dimaksud disini adalah pergerakan faktor produksi dari suatu negara kenegara lain. namun pada kenyataannya tidak semua faktor produksi dapat mobil secara internasional. Menurut Adam Smith, labour merupakan faktor produksi yang paling mobil.
    masalah perbedaan sistem moneter. Setiap negara memiliki mata uang sendiri. Adanya perbedaan mata uang dari setiap negara, perbedaan kebijakan ekonomi moneter, pada gilirannya mempengaruhi sistem lalu lintas pembayaran internasional dan sistem lalu lintas modal.
  3. masalah batas-batas negara yang berdaulat. Adanya batas-batas dari suatu negara dengan negara yang lain yang berdaulat menyebabkan perbedaan politik dalam perdagangan misalnya perlindungan tarif terhadap produk hasil industri didalam negero, larangan impor, quota dan blok perdagangan. Adanya kedaulatan mengakibatkan bea masuk (impor duty) dari suatu negara tidak sama dengan bea impor dari negara lain.
  4. Masalah transport cost. Ongkos angkut dari pabrik kepasar atau kepelabuhan meninggikan harga asal pabrik. Ongkos pengangkutan barang ekspor harus dimasukkan dalam perhitungan biaya agar harga yang diperoleh untuk komoditi ekspor tersebut tepat.

  1. Foreign Direct Investment
Berkaitan dengan permasalahan perdagangan internasional, kita juga tidak bisa mengabaikan alasan negara atau perusahaan multi nasional menanmkan modalnya di suatu negara. Terdapat sebuag argumen tentang location-specific advantages yang dapat menjelaskan beberapa hal penting dalam teori ini yaitu berkaitan dengan ekspor, lisensi dan investasi langsung. Argumen ini penting untuk menjelaskan relativitas keuntungan perusahaan atau negara mengambil kebijakan ekspor, kisensi atau investasi langsung.
Teori ini menjelaskan keputusan untuk ekspor akan diambil jika biaya transportasi lebih rendah dan trade barrier tidak begitu besar. Hal ini akan lebih mempermudah negara atau perusahaan untuk melakukan ekspor karena biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar dan komoditi yang akan diekspor bisa lebih besar mengingat pembatasan perdagangan tidak begitu ketat. Namun jika biaya transportasi dan trade barrier semakin meningkat maka kebijakan untuk melakukan ekspor akan merugikan, selanjutnya pilihan strategi bagi perusahaan atau negara adalah lisensi atau investasi langsung.
Teori FDI memandang bahwa kebijakan untuk investasi langsung akan lebih beresiko daripada lisensi, meskipun dalam beberapa kondisi tertentu tingkat resiko diantara kedua seimbang. Lisensi akan sulit dilakukan jika perusahaan multinasional memiliki beberapa kondisi sebagai berikut :
Perusahaan memiliki know-how yang berharga dan hal ini tidak bisa dilindungi dalam kontrak perusahaan membutuhkan kontrol ketat terhadap prosukdi luar negeri untuk memaksimalkan penguasaan pasar di negara yang bersangkutan
keahlian dan kemampuan perusahaan tidak dapat dimasukkan dalam lisensi.
Pengambilan keputusan untuk melaksanakan lisensi bukanlah pilihan yang tepat bagi perusahaan dengan ciri sebagai berikut :
  1. Industri dengan teknologi tinggi, sehingga perlindungan terhadap keahlian spesifik dari perusahaan dalam lisensi mengandung resiko tinggi.
  2. oligopoli global, dimana saling ketergantungan yang kompetitif, maka perusahaan akan cenderung melakukan kontrol yang ketat terhadap operasi asing sehingga mereka memiliki kemampuan untuk melakukan “serangan” yang terkoordinis terhadap pesaing global mereka.
    industri dengan memusatkan perhatian pada penekanan biaya dan kontrol ketat terhadap operasi asing sehingga mereka akan menjajaki kemungkinan untuk melakukan operasi diseluruh dunia dimana mereka menemukan efisiensi berupa biaya yang rendah dan kompetitor yang membahayakan operasi mereka.

  1. Fungsi Perdagangan Internasional.
  1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi suatu Negara ( fungsi utama ).
  2. Memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang tidak dapat atau belum mampu diproduksi di dalam suatu Negara.
  3. Menyebarluaskan barang dan jasa dari suatu Negara ke Negara lain.
  4. Meningkatkan pendapatan Negara.
  5. Memperluas penggunaaan teknologi antar Negara.

  1. Timbulnya Perdagangan Internasional.
Perdagangan internasional dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi guna mencapai kemakmuran. Untuk mencapai kemakmuran tidak terlepas dari pemenuhan kebutuhan (barang/jasa). Pemenuhan kebutuhan yang tidak mungkin diselenggarakan oleh Negara yang bersangkutan sudah barang tentu dilakukan dengan mendatangkan dari Negara lain. Dari uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa timbulnya perdagangan internasional terutama disebabkan oleh adanya :
  1. Perbedaan sumber-sumber produksi.
Sumber produksi dalam hal ini berhubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam atau bahan baku lain yang mampu diproduksi dan dihasilkan oleh suatu Negara misalnya
  • Minyak dan gas
  • Pertanian, Perikanan, ternak, dan hutan
  • Bahan pertambangan
  • Bahan dasar lain
  1. Perbedaan dalam system distribusi.
Pendistribusian suatu barang dalam suatu Negara juga akan menimbulkan perdangan antar negara. Apabila antara produksen dan konsumen yang letaknya jauh maka, waktu yang dicapai juga akan lama, maka besar kemungkinan masyarajat yang terletak berdekatan dengan Negara lain akan memanfaatkan perbatasan tersebut untuk mendapatkan kebutuhannya, sehingga terjadilah perdagangan.
  • Perbatasan Indonesia dengan Negara Malaysia
  • Perbatasan Indonesia dengan Negara Brunei Darusalam
  • Perbatasan Indonesia dengan Negara Singapura
  • Perbatasan Indonesia dengan Negara Papua Nugini
  • Perbatasan Indonesia dengan Negara Timor Leste
  1. Perbedaan dalam pola konsumsi suatu Negara.
Sesuai dengan kondisi wilayah suatu Negara yang berbeda secara geografis,kebudayaan, dan adapt istiadat, maka pola konsumsi kebutuhan masyarakat suatu Negara akan berbeda. Sehingga adakalanya barang di Negara satu dengan yang lain tidak sama jumlah dan jenisnya. Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka mereka melakukan perdagangan.
  1. Faktor-faktor yang Mendorong Terjadinya Perdagangan Interrnasional.
  1. Terwujudnya suatu kemakmuran bagi masyarakat ( factor pendorong utama ).
  2. Memenuhi kebutuhan (barang/jasa) yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri maupun melalui kegiatan impor.
  3. Menyebarluaskan dan mengembangkan penggunaan teknologi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi.
  4. Memperoleh dan mengembangkan penggunaan teknologi bagi percepatan pertumbuhan ekonomi.
  5. Memperoleh manfaat yang ditimbulkan oleh adanya spesialisasi.

  1. Manfaat Perdagangan Internasional.
  1. Meningkatkan pendapatan Negara, hal ini ditujukan dengan semakin bertambahnya penerimaan devisa umum, yaitu devisa yang diperoleh dari hasil ekspor (manfaat utama).
  2. Dapat mencukupi kebutuhan barang/jasa yang tidak dapat tau belum mampu diproduksi di dalam negeri.
  3. Memperlancar kegiatan ekspor dan membantu impor barang-barang yang dibutuhkan industri dalam negeri.
  4. Meningkatkan industri dalam negeri.
  5. Meningkatkan pendapatan masyarakat.
  6. Mendorong pertumbuhan/perkembangan dunia usaha.
  7. Mendorong adanya hubungan ekonomi secara timbal balik.

  1. Macam-macam Perdagangan Internasional.
  1. Perdagangn bilateral : adalah perdagangn yang dilakukan antar dua Negara.
Misal : Perdagangan yang dilakukan anatara Indonesia dengan Singapura.
  1. Perdagangan regional : adalah perdagangan yang dilakukan dalam atu kawasan tertentu.
Misal : Perdagangan dalam ASEAN.
  1. Perdagangan antar-regional : adalah perdagangan yang dilakukan antar satu kawasan tertentu dengan kawasan lainnya.
Misal : ASEAN dengan MEE.
  1. Perdagangan multilateral : adalah perdagangan yang dilakukan oleh banyak Negara.

  1. Teori Perdagangan Internasional.
Perkembangan perdagangan internasional pada dsarnya diawali dengan perkembangan yang terjadi di Eropa saat beberapa kerajaan memiliki pusat perdagangan seperti London, Napoli, Paris dan Milan sebagai pusat industri rumah tangga. Perkembangan itu telah mendorong perubahan dalam masyarakat dari masyarakat yang feodal menuju masyarakat yang kapitalis. Muncul banyak pedagang yang kemudian melahirkan hubungan antara penguasa dan pedagang untuk memenangkan perdagangan. Tidak heran pada masa itu muncul hubungan khusus antara pedagang dengan jeluarga raja untuk mendapatkan proteksi.
Pasca masa pencerahan atau renaisance telah mendorong masyarakat Eropa untuk mencari daerah baru dan membuka daerah yang belum mereka tmui terutama di belahan dunia timur. Penemuan-penemuan baru pasca pencerahan telah membuat banyak kerajaan di Eropa yang melakukan penjelajahan yang diawali oleh Spanyol. Keberhasilan Spanyol kemudian diikuti oleh negara lain seperti Portugal, Inggris, Belanda dan Perancis. Mulai saat itulah mulai masuk bangsa Barat kenegara Timur yang kemudian kita kenal dengan Negara Dunia Ketiga.
Dalam masyarakat kemudian muncul kelompok-kelompok baru yaitu kelas pedagang atau kelas kapitalis yang menjadi agen pembangunan dan perubahan struktur ekonomi di negara Eropa. Muncul agen-agen perdagangan seperti The Merchant Adventures, The Eastland Company, The Muscovy Company, The East India Company dan VOC yang berusaha mengeruk keuntungan sebesar mungkin melalui monopoli dan kolonialisme. Hal ini mencapai puncak ketika kepentingan pedagang menjadi kepentingan negara yang kemudian dikenal dengan merkantilisme. Pada abad ke-17 kepentingan negarawan terpusat pada politik, tetapi merkantilisme merupakan tahap awal dari kebihajakan ekonomi yang dikenal dengan istilah the commercial or mercantile system dari Adam Smith, pendiri aliran klasik.
Kelompok Merkantilisme Murni dan Kelompok Bullionist Merkantilisme akhirnya berkembang menjadi dua kelompok yaitu kelompok merkantilisme murni dan kelompok bullionist.
Tokoh utama kelompok bullionist adalah Gerald Malynes yang lebih mengutamakan kemakmuran suatu negra melalui pemilikian logam mulia. Gagasan untuk menumpuk logam mulia mendorong pendapat bahwa menjual barang ke negara lain lebih memberikan keuntungan daripada memberi barang dari negara lain, dan selalu mendorong digunakannya kebijaksanaan yang dapat menghasilkan surplus ekspor, karena surplus ekspor dibayar dengan logam mulia.
Salah satu pendukung merkantilisme murni adalah Thomas Mun yang menganut sistem uang dan modal. Yang menonjol dari aliran ini adalah suku bunga yang dapat menguntungkan bagi pencari kredit. Karena itu merkantilisme murni menentang adanya riba. Kredit dengan suku bunga rendah mendorong kegiatan ekonomi apabila didukung dengan perkembangan harga dan banyaknya uang yang beredar dalam bentuk logam mulia dab cara yang paling mudah adalah melalui perdagangan internasional dibawah suatu kebijaksanaan pengawasan untuk mendorong pertumbuhan industri dan perdaganan, khususnya barang ekspor. Hadi terlihat sifat pokok merkantilisme yang menitikberatkan pada perdagangan antar negara, hasrat untuk mencapai kemakmuran dan mengembangkan kekuasaan dengan perdagangan maupun agama.
Berdasarkan dua pandangan diatas maka suatu negara dalam perdagangan internasional harus mencapai surplus ekspor karena akan dibayar dengan emas. Hal yang dilakukan untuk mendorong ekspor dan mngurangi impor adalah :
  1. melarang ekspor logam mulia,
  2. memberi subsidi atas barang ekspor,
  3. melarang ekspor bahan mentah dan harganya didalam negeri agar tetap rendah,
  4. melarang ekspor barang modal,
  5. melarang emigrasi tenaga ahli dengan tujuan agar industru barang ekspor tida disaingi dengan tumbuhnya industri barang-brang tersebut duluar negeri.
Pembatasan impor melalui penerapan tarif bea masuk, non taris barier, quota atau larangan impor terhadap barang yang dapat dihasilkan sendiri untuk mempertahankan harga barang ekspor yang rendah, upah tenaga kerja dibatasi sampai pada kebutuhan fisik minimum
Monopoli perdagangan melalui daerah-daerah jajahan, melalui armada perdagangan, melalui armada perdagangan yang kemudian menjadi alat ekspansi untuk menaklukan dan menduduki daerah-daerah yang menjadi sumber logam mulia.
Setidaknya ada dua aliran perdagangan internasional pada masa merkantilisme yaitu :
  • aliran Colbertisme yang dikemukakan oleh Thomas Mun dan Perdana Menteri Louis XIV Perancis, Colbert yang menyatakan penitikberatan pada perkembangan industri dalam negeri daripada internacional
  • aliran Cameralisme yang dikemukakan oleh Von Hornig dari Jerman dan Becker dari Australia yang terbatas pada upaya untuk menumpuk logam mulia melalui kebijakan fiskal.
  1. Faktor-faktor spesifik dan muasal Teori Perdagangan
Teori modern perdagangan internasional berawal dari pengutaraan oleh David Ricardo, yang menulis pada tahun 1817, bahwa perdagangan saling menguntunkan bagi seluruh negara yang terlibat. Ricardo menggunakan modelnya untuk berhujah bagi perdagangan bebas, khususnya bagi penghapusan tarif yang kala itu membatasi impor makanan ‘ Inggris. Namun keadaan perekonomian Inggris 1817 lebih tepat dijabarkan dengan model faktor-faktor spesifik (specific factors) tinimbang model satu faktor yang diutarakan Ricardo.
Untuk memahami keadaan Inggris 1817, kita perlu meninjau sejarah. Se awal Revolusi Perancis 1789 hingga kekalahan Napoleon di Waterloo 181 Inggris hampir selalu terlibat perang dengan Perancis. Perang ini mengganggu perdagangan Inggris: para awak kapal bersenjata (perompak yang diizinkan < pemerintah asing) menyerang kapal dagang, dan Perancis berupaya untuk menu sakan blokade atas barang-barang Inggris. Karena Inggris merupakan pengekspor manufaktur dan pengimpor hasil-hasil pertanian, rintangan perdagangan meningkatkan harga relatif makanan di Inggris. Keuntungan pabrikan merosot sebaliknya pemilik tanah betul-betul mengalami keberuntungan selama pera yang berkepanjangan.
Seusai perang, harga makanan di Inggris merosot. Untuk menghindari akibat-akibat yang tak diinginkan, para pemilik tanah yang secara politis sang berpengaruh berhasil menelurkan undang-undang, yang dikenal dengan Corn Laws (Undang-undang Jagung), yang menetapkan bea untuk menciutkan import biji-bijian. Undang-undang ini bertentangan dengan argumentasi Ricardo.
Ricardo menyadari bahwa pencabutan Corn Laws akan membuat kapitlis diuntungkan tetapi pemilik tanah dirugikan. Dari cara pandang Ricardo, ini akan menguntungkan semua; sebagai pengusahaLondon, ia lebih suka menjadi kapit yang bekerja keras daripada sebagai aristokrat tuan tanah yang bermalas-malasan Tetapi ia memilih untuk mengutarakan hujahnya dalam bentuk model yang tidak mempedulikan persoalan distribusi pendapatan internal.
Mengapa ia melakukan hal demikian? Hampir pastijawabannya bersifat politis: sementara Ricardo dalam kenyataannya, sampai batas-batas tertentu, mencerminkan kepentingan suatu kelompok tertentu, ia menekankan keuntungan perdagangan bagi semua. Ini merupakan gagasan cemerlang dan sepenuhr merupakan strategi modern. Karena itu Ricardo merupakan pelopordalam menggunakan teori ekonomi sebagai perangkat politik. Dengan demikian, sebagaima kini, politik dan kemajuan intelektual tidaklah bersesuaian: Corn Laws dicabut lebih dari seabad lalu, namun model perdagangan Ricardo tetap merupakan suatu gagasan besar dalam ilmu ekonomi.
  1. Teori kaum Merkantilisme.
Menurut perdagangan merkantilisme bahwa sumber kemakmuran terletak pada banyaknya persediaan logam mulia ( emas dan perak ) serta dicapainya ekspor surplus atas nilai impor. Tindakan untuk merealisir hal tersebut adalah :
    1. Mendorong meningkatkan ekspor, misalnya dengan pemberian subsidi kepada industri dalam negeri, pemberian premi ekspor, melarang tenaga ahli pindah ke luar negeri.
    2. Membatasi impor, misalnya dengan tariff bea masuk, pelarangan impor, kuota impor.
    3. Memperluas daerah koloni atau jajahan guna mendapatkan logam mulia atau untuk mendapatkan bahan mentah yang murah.
    4. memperoleh monopoli dalam perdagangan.

Makalah Penilaiaan Kinerja

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Pendahuluan
Penilaiaan kinerja sering kita jumpai dalam dunia kerja. Hal ini dapat diasumsikan bahwa penilaiaan kinerja sangat penting bagi suatu perusahaaan maupun organisasi untuk meningkatkan kinerja sumberdaya manusia dalam perusahaan atau organisasi tersebut.
Penilaiaan kinerja sering dilakukan sebagai upaya mengevaluasi kinerja para tenaga kerja yang dianggap belum mampu untuk mengemban pekerjaannya karena factor perkembangan kebutuhan perusahaan dan organisasi. Secara deskripsi tertentu potensi para pekerja mungkin sudah memenuhi syarat atau kriteria pada pekerjaannya, tapi secara actual para pekerja harus mengikuti atau mengimbangi perkembangan lingkungan kerja. Hal ini mendorong perusahaan untuk memfasilitasi penilaaian kinerja untuk para tenaga kerja guna mendapatkan hasil kinerja yang baik, efektif dan efisien. Dalam kaitannya dengan tema ini, pemakalah mencoba menyajikan poin penting dalam pelatihan dan pengembangan.
BAB II
PERMASALAHAN
2.1 Permasalahan
Dalam makalah ini kami merumuskan beberapa permasalahan antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Penegertian kinerja kerja?
  2. Tujuan penilaian kinerja?
  3. Manfaat penilaian kerja?
  4. Elemen dan proses penilaian kinerja?
  5. Hambatan penilaian kinerja?
  6. Metode Penilaian kinerja?
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian penilaiaan kinerja
adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama priode tertentu  didalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran  atau kriteria yang telah ditentukan terlebih suatu penelitian  telah memperlihatkan  bahwa suatu lingkungan kerja yang menyenangkan  sangat penting untuk mendorong tingkat kinerja karyawan yang paling produktif. dalam interaksi sehari-hari, antara atasan dan bawahan, berbagai asumsi dan harapan lain muncul. Ketika atasan dan bawahan membentuk serangkaian asumsi dan harapan mereka sendiri yang sering agak berbeda, perbedaan-perbedaan ini yang akhirnya berpengaruh pada tingkat kinerja. Kinerjadahulu dan telah disepakati bersama.(rivai & basri, 2004: 14).
            apabila dikaitkan dengan  performance sebagai kata benda (noun), maka pengertian  performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatau perusahaan sesuai  dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melangar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. (rivai& basri 2004:16).
Pengertian kinerja adalah Suatau sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan  dengan pekerjaan, prilaku, dan hasil, termasuk dan tingkat ketidak hadiran. Fokusnya adalah untuk mengetahui seberapa produktif seseorang karyawan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga karyawan, organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat. (Schuler & Jackson, 1996:3)
3.2 Tujuan penilaian kinerja
schol dan jaksion dalam bukunya yang berjudul manajemen sumber daya mausia edisi keenan pada jilid kedua menjelaskan bahwa sebuah studi yang dilakukan akhir-akhir ini mengidentifikasi ada dua puluh macam tujuan informasi kinerja yang berbeda-beda, yang dikelompokkan dalam empat macam kategori
  1. Evaluasi yang menekan perbandingan antar orang-orang
  2. Penggembangan yang menekan perubahan-perubahan dalam diiri seseorang         berjalannya waktu
  3. Pemeliharaan system
  4. Dokumentasi keputusan-keputusan-sumber daya manusia bila terjadi pendekatan
efektifas dari penilaian kinerjayang di kategorikann dari dua puluh macam penilaian kinerja ini tergantung dalam sasaran bisnis strategi yang ingin dicapai. Oleh sebab itu penilaian  kinerja diintegretasikan dengan sasaran-sasaran strategi karna berbagai alasan.
  1. Menjajarkan tugas individus dengan tujuan organiisasi, menambah deskripsi yang harus diperlihatkan dan hsil yang harus mereka cai agar suatu strategi dapat hidup.
  2. Mengukur kontribusi masing-masing untuk kerja dan masing-masig karyawan
  3. Evaluasi kiinerja memberi kontribusi keada tindakan dan keputusan administratif yang mempentinggi dan mempernudah strategi.
  4. Penilaian kinerja dsapat menimbulkan potensi untuk mengidentifikasikan kebutuhan bagi strategi dan program-program baru.
3.3 Manfaat penilaian kerja
Manfaat penilaian kerja bagi semua pihak adalah agar semua merka mengetahui manfaat yang dapat mereka harapkan. Pihak-pihak yang berkepentingan adalah:
  1. Orang yang dinilai (karyawan)
  2. Penilaian (atasan, supervisor, pimpinan, manager, konsultan)
  3. Perusahaan
  1. Manfaat bagi karyawan yang dinilai
Bagi karyawan yang dinilai, keuntungan pelaksanaan karyawan kinerja kerja adalah kinerja antara lain:
  1. meningkatkan motivasi.
  2. meningkatkan keouasan hidup
  3. adanya kejelasan standar hasil yang diterapkan mereka.
  4. Umpan balik bagi kinerja lalu yang kurang akurat dan konstruktif.
  5. pengembangan tentang pengetahuan.
  6. membangun kekuatan dan mengurangi kelemahan semaksimal mungkin
  7. adanya kesempatan untuk brkomunikasi
  8. peningkatan penilaian tentang pribadi.
  9. kesempatan untuk mendiskusikan permasalahan pekerjaan dan bagaimana mereka mengatasinya.
  10. suatu pemahamn yang jelas apa yang diharapkan dan apa yang perlu untuk dilaksanakan untuk mencapai harapan tersebut.
  11. adanya perdagangan yang lebih jelas tent.ang kontek pekerjaan
  12. kesempatan untuk mendiskulu untuk memenuhi cita-cita meningkatkan hubungan yang harmonis dan aktif dengan atasan


  1. manfaat  (supervisor, pimpinan, manager, konsultan)
  1. kesempatan mengidentifkasi  mengukur dan cendrung kerja karyawan untuk memperbaiki manajemen selanjutya.
  2. kesempatan untukj mengembangkan suatu  pandangan umum tentang pekerjaan individu dan departemen lengkap.
  3. memberikan peluang untuk mengembangkan sistem pengawasan untuk baik untuk pekerjaan manajer sendiri, maupun pekerjaan dari bawahannya.
  4. identifikasi gagasan untuk peningkatan tentang nilai pribadi.
  5. peningkatan kepuasan kerja.
  6. pemahaman yang lebih baik seperti karyawan, tentang rasa takut, rasa grogi, harapan dan aspirasi mereka. Meningkatkan kepuasan kerja baik terhadapa karyawan dari para manajer maupun para karyawan.
  7. kesempatan untuk menjelaskan tuyjuan dan prioritas penilai dengan memberikan pandangan yang lebih baik terhadap bagaimana mereka dapat memberikan  kontribusiyang lebih besar kepda perusahaan.
  8. meningkatkan rasa harga dii yang kuat diantara manajer dan juga para karyawan, karna telah berhasil mendekatkan ide dari karyawan dan ide dari manajer.
  9. sebagai media untuk mengurangi kesenjangan antara sasaran individu dengan sasaran kelompok atau sasaran departemen SDM atau ssaran perusahaan.
  10. kesempatan bagi para manajer untuk  menjelaskan pada karyawan untuk sebenarnya diingikan oleh perusahaan dari para karyawan sehingga karyawan dapat mengukur dirinya, menempatkan dirinya, dan berjaya sesuai dengan harapan manajer.
  11. sebagai media untuk meningkatkan interpersonal relationship atau hubungan antara i pribadi anatara karyawan dengan manajer.
  12. dapat sebagai sarana meningkatkan motivasi karyawan dengan lebih memuaskan perhatian kepada mereka secara pribadi.
  13. merupakan kesempatan berharga bagi manajer agar dapat meningkatkan kembali apa yang telah dilakukan sehingga merivisi kemungkinan target atau menyusun prioritas kembali
  14. bisa mengidentifikasikan kesempatan untuk mrotasi atau perusahaan tugas karyawan.
  1. manfaat bagi perusahaan
bagi perusahaan manfaat penilaian, antara lain:
  1. perbaikkan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan karena:
  1. komunikasi menjadilebih efektif mengenai tujuan perusahaan dan nilai budaya    perusahaan
  2. peningkatan rasa kerjasama dan loyalitas
  3. peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk menggunakan keterampilan dan keahlian memimpinnya untuk motivasi karyawan dan mengembangkan kemauan ddanketerampilan karyawan.
  1. meningkatkan pandangan secara menyangkut tugas  yang dilakukan oleh masing-masing karyawan
  2. meningkatkan kualitas komunitas
  3. meningkatkan motivasi karyawan secara keseluruhan
  4. meningkatkan keharmonisan  hubungan dalam pencapaian tujuan prusahaan
  5. peningkatan segi pengawasan melekat dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh setiap karyawan
  6. harapan dan pandangan jangka panjang dapat dikembangkan
  7. untuk mengenali lebih jelas permasalahan dan pengembangan yang dibutuhkan
  8. kemampuan memnuhi kendali setiap permasalahan
  9. sebagai sarana penyampaian pesan bahwa karyawan itu dihargai oleh perusahaan
3.4 Proses penilaian kinerja
Menurut Mondy dan Noe(2005), ada lima langkah dalam proses penilaian kinerja
  1. Kriteria Kinerja
Dalam menetapkan kriteria kinerja, Mondy & Noe(2005) membagi menjadi beberapa kritera,yaitu :
  1. Ciri-ciri. Ciri-ciri karyawan tertentu seperti sikap, penampilan, dan inisiatif merupakan dasar untuk evaluasi.
  2. Perilaku, Ketika hasil dari tugas individu sulit untuk ditentukan, organisasi dapat mengevaluasi perilaku seseorang yang terkait dengan tugas atau kompetensi.
  1. Kompetensi
Kompetensi terdiri dari pengetahuan, keterampilan, sifat dan perilaku, dan berhubungan dengan keterampilan interpersonal atau berorientasi bisnis.
  1. Pencapaian tujuan
Jika organisasi mempertimbangkan hasil akhir pencapaian tujuan sebagai suatu hal yang berarti, hasil pencapaian tujuan akan menjadi faktor yang tepat untuk dievaluasi untuk dibandingkan dengan standar.
  1. Peningkatan potensi
Ketika organisasi mengevaluasi kinerja karyawan, kriteria difokuskan pada masa lalu, masa sekarang, dibandingkan dengan standar.
3.5 Hambatan penilaian kinerja
Hambatan/masalah yang berkaitan dengan penilaian kinerja adalah:
  1. Kurangnya objektivitas
Salah satu kelemahan metode penilain kinerja tradisional adalah kurangnya objektivitas. Dalam metode rating scale, misalnya, faktor-faktor yang lazim digunakan seperti sikap, loyalitas dan kepribadian adalah faktor-faktor yang sulit diukur. Penggunaan faktor-faktor yang terkait dengan pekerjaan (job related factors) dapat meningkatkan objektivitas.
  1. Bias “Hallo error”
Bias “Hallo error” terjadi bila penilai mempersepsikan satu faktor sebagai kriteria yang paling penting dan memberikan penilaian umum baik atau buruk berdasarkan faktor tunggal ini.
  1. Terlalu “longggar” / terlalu “ketat”
Penilai terlalu “longggar” (leniency) kecenderungan memberi nilai tinggi kepada yang tidak berhak, penilai memberi nilai lebih tinggi dari seharusnya.
Penilai terlalu “ketat” (strictness) terlalu kritis atas kinerja seorang pekerja (terlalu “ketat” dalam memberikan nilai). Penilaian yang terlalu ketat biasanya terjadi bila manajer tidak mempunyai definisi atau batasan yang akurat tentang berbagai faktor penilaian.
  1. Kecenderungan memberikan nilai tengah
Kecenderungan memberi nilai tengah (Central tendency), terjadi bila pekerja di beri nilai rata-rata secara tidak tepat atau di tengah-tengah skala penilaian, Biasanya, penilai memberi nilai tengah karena ingin menghindari kontroversi atau kritik.
  1. Bias perilaku terbaru
Bias perilaku terbaru (recent behavior bias) , perilaku atau kinerja yang paling akhir akan lebih mudah diingat daripada perilaku yang telah lama. Penilai cenderung lebih banyak menilai kinerja yang tampak menjelang atau pada saat proses penilaian dilakukan. Seharusnya penilaian kinerja mencakup periode waktu tertentu.
  1. Bias pribadi(stereotype)
Penyelia yang melakukan penilaian bisa saja memiliki bias yang berkaiatan dengan karakteristik pribadi pekerja seperti suku, agama, gender atau usia. Meskipun ada peraturan atau undang-undang yang melindugi pekerja, diskriminasi tetap menjadi masalah dalam penilain kinerja.
3.6 Metode penilaiaan kinerja
Menurut Mondy &Noe(2005), ada tujuh metode penilaian kinerja yaitu:
  1. Rating Scales
Menilai kinerja pegawai dengan menggunakan skala untuk mengukur faktor-faktor kinerja (performance factor). Misalnya dalam mengukur tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai. Skala yang digunakan adalah 1 sampai 5, yaitu 1 adalah yang terburuk dan 5 adalah yang terbaik. Jika tingkat inisiatif dan tanggung jawab pegawai tersebut biasa saja, maka ia diberi nilai 3 atau 4 dan begitu seterusnya untuk menilai faktor-faktor kinerja lainnya.
  1. Critical Incidents
Evaluator mencatat mengenai apa saja perilaku/pencapaian terbaik dan terburuk (extremely good or bad behaviour) pegawai. Dalam metode ini, penilai harus menyimpan catatan tertulis tentang tindakan-tindakan atau prilaku kerja yang sangat positif (high favorable) dan perilaku kerja yang sangat negatif (high unfavorable) selama periode penilaian.
  1. Essay
Evaluator menulis deskripsi mengenai kekuatan dan kelemahan karyawan, kinerjanya pada masa lalu, potensinya dan memberikan saran-saran untuk pengembangan pekerja tersebut. Metode ini cenderung lebih memusatkan perhatian pada perilaku ekstrim dalam tugas-tugas karyawan daripada pekerjaan atau kinerja rutin yang mereka lakukan dari hari ke hari. Penilaian seperti ini sangat tergantung kepada kemampuan menulis seorang penilai.
  1. Work standard
Metode ini membandingkan kinerja setiap karyawan dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya atau dengan tingkat keluaran yang diharapkan. Standar mencerminkan keluaran normal dari seorang pekerja yang berprestasi rata-rata, yang bekerja pada kecepatan atau kondisi normal. Agar standar ini dianggap objektif, para pekerja harus memahami secara jelas bagaimana standar yang ditetapkan.
  1. Ranking
Penilai menempatkan seluruh pekerja dalam satu kelompok sesuai dengan peringkat yang disusun berdasarkan kinerja secara keseluruhan. Contohnya, pekerja terbaik dalam satu bagian diberi peringkat paling tinggi dan pekerja yang paling buruk prestasinya diletakkan di peringkat paling bawah. Kesulitan terjadi bila pekerja menunjukkan prestasi yang hampir sama atau sebanding.
  1. Forced distribution
Penilai harus “memasukkan” individu dari kelompok kerja ke dalam sejumlah kategori yang serupa dengan sebuah distribusi frekuensi normal. Contoh para pekerja yang termasuk ke dalam 10 persen terbaik ditempatkan ke dalam kategori tertinggi, 20 persen terbaik sesudahnya ke dalam kategori berikutnya, 40 persen berikutnya ke dalam kategori menengah, 20 persen sesudahnya ke dalam kategori berikutnya, dan 10 persen sisanya ke dalam kategori terendah. Bila sebuah departemen memiliki pekerja yang semuanya berprestasi istimewa, atasan “dipaksa” untuk memutuskan siapa yang harus dimasukan ke dalam kategori yang lebih rendah.
  1. Behaviourally Anchored Rating Scales (BARS)
Evaluator menilai pegawai berdasarkan beberapa jenis perilaku kerja yang mencerminkan dimensi kinerja dan membuat skalanya. Misalnya penilaian pelayanan pelanggan. Bila pegawai bagian pelayanan pelanggan tidak menerima tip dari pelanggan, ia diberi skala 4 yang berarti kinerja lumayan. Bila pegawai itu membantu pelanggan yang kesulitan atau kebingungan, ia diberi skala 7 yang berarti kinerjanya memuaskan, dan seterusnya. Metode ini mendeskripsikan perilaku yang diharapkan sesuai dengan tingkat kinerja yang diharapkan.
BAB 4
Penutup
4.1 kesimpulan
Penilaiaan kinerja lebih terarah pada evaluasi  kemampuan dan keahlian SDM suatu organisasi yang berkaitan dengan evaluasi kinerja guna untuk dapat meningkatkan efektifitas sumberdaya manusia dalam sutu perusahaan.
Penilaiaan kinerja bukanlah solusi utama yang dapat menyelesaikan semua persoalan dalam suatu organisasi lembaga, atau sebuah instansi. Tetapi mengarah pada evaluasi kinerja para karyawan atau tenaga kerja yang baik dan benar. Dan tujuan utama dalam penilaiaan kenerja adalah untuk mengidentivikasi masalah-masalah dalam suatu organisasi maupun perusahaan.
Penilaiaan kinerja dapat mennciptaan suatu lingkungan dimana suatu perusahaan dapat memperoleh informasi tentang tenaga kerjanya dan dapat mengambil tindakan bagi tenaga kerja maupun organisasi atau perusahaan, agar perusahaan atau organisasi tersebut dapat meningkatkan kinerjanya. Pelatihan merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang untuk mengevaluasi keahlian, pengetahuan, pengalaman, ataupun perubahan sikap seseorang inidividu.